Kamis, 30 Maret 2017

Review Jurnal Ke 7 “Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga”




Nama Jurnal
Jurnal Manajemen Indonesia
Volume
Vol. 15 - No. 1
Nama Penulis
Dwian Wahyu Prabawa dan Fitri Lukiastuti
Judul Jurnal
Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Manajemen Risiko dan Manajemen Modal Kerja Terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Listing Di BEI
Tahun 2010-2013)
Tanggal Jurnal
April 2015
Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis pengaruh kinerja keuangan perusahaan, pengaruh manajemen risiko dan pengaruh dari manajemen modal kerja.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, uji asumsi klasik, uji koefisien determinasi dan selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan dengan bantuan program SPSS 19.0 for windows.
Variabel Penelitian
Variabel dependen yang berupa return saham dan variabel independen yaitu kinerja keuangan.
Hasil Penelitian
Nilai Kolmogorov-Smirnov dengan nilai 0,772 dimana hasil ini menunjukkan tingkat signifikansi diatas α= 5% atau 0,05 hal ini menunjukkan bahwa data yang ada pada semua variabel yang digunakan terdistribusi secara normal.
Koefisien Determinasi yang menunjukkan besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen hasilnya sebesar 0.421 atau 42.1%, sedangkan 57.9% nya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model yang digunakan dalam penelitian.
Hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara simultan variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen yaitu return saham, dengan nilai F hitung sebesar 4.760 dan nilai signifikansi sebesar 0.002.
Hasil pengujian masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen terlihat bahwa Debt to Equity Ratio (DER), Return on Investment (ROI) dan Total Asset Turn Over (TATO) memiliki pengaruh terhadap return saham. Sedangkan variabel Current ratio (CR), interest rate (ir), dan Cash Conversion Cycle (CCC) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham.
Kesimpulan
Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. DER berbanding terbalik dengan return saham.
Return on Investmen (ROI) berpengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Hasil penelitian yang signifikan antara ROI dan return saham disebabkan oleh hubungan yang positif antara tingkat rasio ROI dengan return saham.
Current Ratio (CR) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi, dikarenakan CR merupakan indikasi yang menunjukkan mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Total Asset Turn Over (TATO) memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi.
Interest rate (ir) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Tidak adanya pengaruh antara ir dan return saham dikarenakan tingkat bunga yang tinggi merupakan sinyal positif bagi investor untuk membeli sejumlah saham yang dikeluarkan emiten.
Cash Conversion Cycle (CCC) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Tidak adanya pengaruh positif antara CCC dan return saham dikarenakan investor tidak mengambil keputusan investasi mereka dengan melihat nilai CCC.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut kami, jurnal ini sudah baik. Materi yang dibahas menarik dan dapat memberikan pemahaman lebih. Yang dapat kami tangkap dari jurnal ini yaitu dengan adanya peningkatan pendapatan perkapita yang diikuti dengan tingkat daya beli masyarakat membuat kondisi perekonomian Indonesia yang menunjukkan kestabilan sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat menjadi semakin membaik. Maka dari itu, peran Manajer dalam suatu perusahaan sangat penting untuk terus menjaga kinerja perusahaan agar profitabilitas yang diperoleh perusahaan terus meningkat dan membawa kesejahteraan baik untuk perusahaan, karyawan maupun investornya yang dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia.

Sumber:





Nama Jurnal
Jurnal Manajemen Indonesia
Volume
Vol. 15 - No. 1
Nama Penulis
Dwian Wahyu Prabawa dan Fitri Lukiastuti
Judul Jurnal
Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Manajemen Risiko dan Manajemen Modal Kerja Terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Listing Di BEI
Tahun 2010-2013)
Tanggal Jurnal
April 2015
Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis pengaruh kinerja keuangan perusahaan, pengaruh manajemen risiko dan pengaruh dari manajemen modal kerja.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, uji asumsi klasik, uji koefisien determinasi dan selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan dengan bantuan program SPSS 19.0 for windows.
Variabel Penelitian
Variabel dependen yang berupa return saham dan variabel independen yaitu kinerja keuangan.
Hasil Penelitian
Nilai Kolmogorov-Smirnov dengan nilai 0,772 dimana hasil ini menunjukkan tingkat signifikansi diatas α= 5% atau 0,05 hal ini menunjukkan bahwa data yang ada pada semua variabel yang digunakan terdistribusi secara normal.
Koefisien Determinasi yang menunjukkan besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen hasilnya sebesar 0.421 atau 42.1%, sedangkan 57.9% nya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model yang digunakan dalam penelitian.
Hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara simultan variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen yaitu return saham, dengan nilai F hitung sebesar 4.760 dan nilai signifikansi sebesar 0.002.
Hasil pengujian masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen terlihat bahwa Debt to Equity Ratio (DER), Return on Investment (ROI) dan Total Asset Turn Over (TATO) memiliki pengaruh terhadap return saham. Sedangkan variabel Current ratio (CR), interest rate (ir), dan Cash Conversion Cycle (CCC) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham.
Kesimpulan
Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. DER berbanding terbalik dengan return saham.
Return on Investmen (ROI) berpengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Hasil penelitian yang signifikan antara ROI dan return saham disebabkan oleh hubungan yang positif antara tingkat rasio ROI dengan return saham.
Current Ratio (CR) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi, dikarenakan CR merupakan indikasi yang menunjukkan mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Total Asset Turn Over (TATO) memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi.
Interest rate (ir) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Tidak adanya pengaruh antara ir dan return saham dikarenakan tingkat bunga yang tinggi merupakan sinyal positif bagi investor untuk membeli sejumlah saham yang dikeluarkan emiten.
Cash Conversion Cycle (CCC) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham perusahaan telekomunikasi. Tidak adanya pengaruh positif antara CCC dan return saham dikarenakan investor tidak mengambil keputusan investasi mereka dengan melihat nilai CCC.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut kami, jurnal ini sudah baik. Materi yang dibahas menarik dan dapat memberikan pemahaman lebih. Yang dapat kami tangkap dari jurnal ini yaitu dengan adanya peningkatan pendapatan perkapita yang diikuti dengan tingkat daya beli masyarakat membuat kondisi perekonomian Indonesia yang menunjukkan kestabilan sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat menjadi semakin membaik. Maka dari itu, peran Manajer dalam suatu perusahaan sangat penting untuk terus menjaga kinerja perusahaan agar profitabilitas yang diperoleh perusahaan terus meningkat dan membawa kesejahteraan baik untuk perusahaan, karyawan maupun investornya yang dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia.

Sumber:


REVIEW JURNAL 6 “TRANSLASI MATA UANG ASING”



Nama Jurnal
 -
Volume / Halaman
Ekuitas Vol.4. No.1 Maret 2000 : 13-28
Nama Penulis
Akhmad Riduwan
Judul Jurnal
PENERAPAN PSAK NO.52 DALAM PERUBAHAN MATA UANG PENCATATAN DAN PELAPORAN
Tanggal Jurnal
1 Maret 2000
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh Konvergensi IFRS kepada bisnis, perbankan, pendidikan dan profesi akuntansi
Metode Penelitian
Pengukuran kembali akun aktiva, kewajiban, modal saham, pendapatan, beban  dan dividen serta menghitung selisih pengukuran kembali
Variabel Penelitian
 -
Hasil Penelitian
Akun “saldo laba” atau akun “akumulasi kerugian” tidak dapat diukur kembali berdasarkan kurs tertentu, karena jumlah yang melekat pada akun ini pada dasarnya adalah jumlah akumulasi laba (rugi) dari tahun-tahun yang lalu. Dalam proses pengukuran kembali (remeasurement) akun-akun laporan keuangan, jumlah akun saldo laba yang dinyatakan dalam mata uang pelaporan yang baru, merupakan “residu dari proses pengukuran
kembali” tersebut. Saldo laba pada akhir tahun sebesar USD 26,784 adalah selisih antara total aktiva sebesar USD 205.040 dengan jumlah kewajiban
dan modal saham sebesar USD 178,256.

Karena tidak dapat diukur kembali berdasarkan kurs tertentu, maka dalam proses pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan, saldo laba pada awal tahun dianggap tidak ada. Sebagai konsekuensinya, jumlah saldo laba awal tahun tersebut akan masuk dalam “selisih pengukuran kembali” yang diperhitungkan dalam laporan laba-rugi periode berjalan. Jumlah saldo laba awal tahun sudah termasuk dalam “selisih pengukuran kembali (laba)” yang berjumlah sebesar USD 14,770.
Kesimpulan Penelitian
Penerapan PSAK No. 52 dalam perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan pada sebuah perusahaan di Indonesia mengharuskan perusahaan tersebut mengukur kembali akun-akun yang terdapat pada laporan keuangan. Pada penelitian ini PT A Setelah memutuskan untuk mengganti mata uang pelaporan dari Rupiah ke USD, PT A harus mencatat transaksi keuangannya dalam mata uang USD. Akun-akun laporan keuangan -- terutama akun riil -- yang telah diukur kembali ke dalam mata uang USD, dijadikan sebagai saldo awal untuk memulai pencatatan berdasarkan mata uang fungsional yang baru. Transaksi yang dinyatakan dalam mata uang selain USD harus dipandang sebagai transaksi dalam mata uang asing, dan karenanya, harus ditranslasikan lebih dahulu ke USD.
Namun, nantinya PT A dapat mengganti meta uang fungsional dan mengubah kembali mata uang pencatatan ke dalam Rupiah karena USD sudah tidak digunakan sebagai mata uang fungsional.
Pendapat Mengenai Jurnal
Jurnal ini memberikan informasi untuk perusahaan yang menggunakan mata uang asing sebagai mata uang fungsional dalam transaksinya. Perusahaan tersebut haruslah menerapkan PSAK 52 sebagaimana nantinya ia harus mengubah mata uang pelaporan serta pencatatan laporan keuangan. Laporan ini akan digunakan investor luar negeri untuk keperluan konsolidasi

Kekurangan jurnal ini hanya memuat tentang perhitungan untuk mengetahui selisih mata uang awal dan mata uang akhir dalam suatu laporan keuangan. Tidak ada nama jurnal serta variable apa saja yang digunakan

Sumber:



Nama Jurnal
 -
Volume / Halaman
Ekuitas Vol.4. No.1 Maret 2000 : 13-28
Nama Penulis
Akhmad Riduwan
Judul Jurnal
PENERAPAN PSAK NO.52 DALAM PERUBAHAN MATA UANG PENCATATAN DAN PELAPORAN
Tanggal Jurnal
1 Maret 2000
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh Konvergensi IFRS kepada bisnis, perbankan, pendidikan dan profesi akuntansi
Metode Penelitian
Pengukuran kembali akun aktiva, kewajiban, modal saham, pendapatan, beban  dan dividen serta menghitung selisih pengukuran kembali
Variabel Penelitian
 -
Hasil Penelitian
Akun “saldo laba” atau akun “akumulasi kerugian” tidak dapat diukur kembali berdasarkan kurs tertentu, karena jumlah yang melekat pada akun ini pada dasarnya adalah jumlah akumulasi laba (rugi) dari tahun-tahun yang lalu. Dalam proses pengukuran kembali (remeasurement) akun-akun laporan keuangan, jumlah akun saldo laba yang dinyatakan dalam mata uang pelaporan yang baru, merupakan “residu dari proses pengukuran
kembali” tersebut. Saldo laba pada akhir tahun sebesar USD 26,784 adalah selisih antara total aktiva sebesar USD 205.040 dengan jumlah kewajiban
dan modal saham sebesar USD 178,256.

Karena tidak dapat diukur kembali berdasarkan kurs tertentu, maka dalam proses pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan, saldo laba pada awal tahun dianggap tidak ada. Sebagai konsekuensinya, jumlah saldo laba awal tahun tersebut akan masuk dalam “selisih pengukuran kembali” yang diperhitungkan dalam laporan laba-rugi periode berjalan. Jumlah saldo laba awal tahun sudah termasuk dalam “selisih pengukuran kembali (laba)” yang berjumlah sebesar USD 14,770.
Kesimpulan Penelitian
Penerapan PSAK No. 52 dalam perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan pada sebuah perusahaan di Indonesia mengharuskan perusahaan tersebut mengukur kembali akun-akun yang terdapat pada laporan keuangan. Pada penelitian ini PT A Setelah memutuskan untuk mengganti mata uang pelaporan dari Rupiah ke USD, PT A harus mencatat transaksi keuangannya dalam mata uang USD. Akun-akun laporan keuangan -- terutama akun riil -- yang telah diukur kembali ke dalam mata uang USD, dijadikan sebagai saldo awal untuk memulai pencatatan berdasarkan mata uang fungsional yang baru. Transaksi yang dinyatakan dalam mata uang selain USD harus dipandang sebagai transaksi dalam mata uang asing, dan karenanya, harus ditranslasikan lebih dahulu ke USD.
Namun, nantinya PT A dapat mengganti meta uang fungsional dan mengubah kembali mata uang pencatatan ke dalam Rupiah karena USD sudah tidak digunakan sebagai mata uang fungsional.
Pendapat Mengenai Jurnal
Jurnal ini memberikan informasi untuk perusahaan yang menggunakan mata uang asing sebagai mata uang fungsional dalam transaksinya. Perusahaan tersebut haruslah menerapkan PSAK 52 sebagaimana nantinya ia harus mengubah mata uang pelaporan serta pencatatan laporan keuangan. Laporan ini akan digunakan investor luar negeri untuk keperluan konsolidasi

Kekurangan jurnal ini hanya memuat tentang perhitungan untuk mengetahui selisih mata uang awal dan mata uang akhir dalam suatu laporan keuangan. Tidak ada nama jurnal serta variable apa saja yang digunakan

Sumber:

Review Jurnal Ke 5 “Pelaporan dan Pengungkapan”



Nama Jurnal
Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE)
Judul Jurnal
Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tingkat Pengungkapan laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Di Indonesia
Volume / Halaman
Vol 22, No 1 25 / 25-33
Nama Penulis
Ririn Hendriyanti & Afrizal tahar
Tanggal Jurnal
Maret 2015
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan dari pemerintah provinsi di Indonesia
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode 
 purposive sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah ringkasan dari Laporan Keuangan Pemeriksaan Hasil Pemerintah Provinsi di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan jumlah penduduk diperoleh dari Buku Statistik Indonesia. Dalam penelitian ini, sampel termasuk 30 provinsi dengan periode pelaporan 3 tahun yaitu dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan menggunakan analisis data panel.
Variabel Penelitian
Variabel Bebas : Tingkat Pengungkapan
Variabel Terikat : Tingkat Ketergantungan, Rasio PAD , Belanja Modal, Jumlah Penduduk, Temuan audit
Hasil Penelitian
Rata-rata tingkat pengungkapan dalam Catatan atas laporan Keuangan selama tahun 2012 hingga tahun 2014 adalah 41,7663%.

Variabel tingkat ketergantungan memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0.084 dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α (0.05) . Tingkat ketergantungan berpengaruh negative terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa dana alokasi umum yang diterima daerah tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan

Variabel Pendapatan Asli Daerah memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.150 lebih besar dari α (0.05) . Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Pendapatan asli daerah menunjukkan, bahwa tingginya tingkat kekayaan suatu daerah tidak akan secara otomatis melakukan pengungkapan informasi yang tinggi pula.

Variabel Belanja modal memiliki koefisien regresi sebesar 0.126 dengan signifikansi sebesar 0.002 lebih kecil dari α (0.05). Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi.

Variabel Jumlah Penduduk memiliki nilai koefisien regresi sebesar 2.947 dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α (0.05). Jumlah penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Jumlah penduduk, menunjukan bahwa jumlah penduduk merupakan proksi dari tingkat kompleksitas pemerintah. Semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin kompleks pemerintahan tersebut sehingga semakin tinggi tingkat pengungkapannya.

Variabel Temuan audit memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.011 dengan signifikansi sebesar 0.208 lebih besar dari α (0.05). Temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Temuan audit tidak berpengaruh, disebabkan karena BPK akan memberikan saran kepada pemerintah provinsi untuk memperbaiki temuan-temuan audit yang mereka temukan, dengan adanya perbaikan maka opini yang diberikan akan mendapatkan opini wajar. Sehingga jumlah temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan.
Kesimpulan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat  ditarik kesimpulan yaitu tingkat ketergantungan berpengaruh negative terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Jumlah penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, dan Temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut saya secara keseluruhan isi dari jurnal ini sudah baik, hanya saja terdapat beberapa variabel independen yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal tersebut mungkin dapat dipengaruhi oleh factor lingkugan, social dan objek yang diteliti.  Saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat menyajikan rentang waktu penelitian yang lebih panjang dan menambah variabel indepen yang dapat memiliki pengaruh yang lebih besar dalam hal pengungkapan yang dilakukakan oleh pemerintah provinsi.

Sumber:



Nama Jurnal
Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE)
Judul Jurnal
Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tingkat Pengungkapan laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Di Indonesia
Volume / Halaman
Vol 22, No 1 25 / 25-33
Nama Penulis
Ririn Hendriyanti & Afrizal tahar
Tanggal Jurnal
Maret 2015
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan dari pemerintah provinsi di Indonesia
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode 
 purposive sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah ringkasan dari Laporan Keuangan Pemeriksaan Hasil Pemerintah Provinsi di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan jumlah penduduk diperoleh dari Buku Statistik Indonesia. Dalam penelitian ini, sampel termasuk 30 provinsi dengan periode pelaporan 3 tahun yaitu dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan menggunakan analisis data panel.
Variabel Penelitian
Variabel Bebas : Tingkat Pengungkapan
Variabel Terikat : Tingkat Ketergantungan, Rasio PAD , Belanja Modal, Jumlah Penduduk, Temuan audit
Hasil Penelitian
Rata-rata tingkat pengungkapan dalam Catatan atas laporan Keuangan selama tahun 2012 hingga tahun 2014 adalah 41,7663%.

Variabel tingkat ketergantungan memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0.084 dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α (0.05) . Tingkat ketergantungan berpengaruh negative terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa dana alokasi umum yang diterima daerah tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan

Variabel Pendapatan Asli Daerah memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.150 lebih besar dari α (0.05) . Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Pendapatan asli daerah menunjukkan, bahwa tingginya tingkat kekayaan suatu daerah tidak akan secara otomatis melakukan pengungkapan informasi yang tinggi pula.

Variabel Belanja modal memiliki koefisien regresi sebesar 0.126 dengan signifikansi sebesar 0.002 lebih kecil dari α (0.05). Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi.

Variabel Jumlah Penduduk memiliki nilai koefisien regresi sebesar 2.947 dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α (0.05). Jumlah penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Jumlah penduduk, menunjukan bahwa jumlah penduduk merupakan proksi dari tingkat kompleksitas pemerintah. Semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin kompleks pemerintahan tersebut sehingga semakin tinggi tingkat pengungkapannya.

Variabel Temuan audit memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0.011 dengan signifikansi sebesar 0.208 lebih besar dari α (0.05). Temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Temuan audit tidak berpengaruh, disebabkan karena BPK akan memberikan saran kepada pemerintah provinsi untuk memperbaiki temuan-temuan audit yang mereka temukan, dengan adanya perbaikan maka opini yang diberikan akan mendapatkan opini wajar. Sehingga jumlah temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan.
Kesimpulan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat  ditarik kesimpulan yaitu tingkat ketergantungan berpengaruh negative terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Belanja modal memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, Jumlah penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi, dan Temuan audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut saya secara keseluruhan isi dari jurnal ini sudah baik, hanya saja terdapat beberapa variabel independen yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal tersebut mungkin dapat dipengaruhi oleh factor lingkugan, social dan objek yang diteliti.  Saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat menyajikan rentang waktu penelitian yang lebih panjang dan menambah variabel indepen yang dapat memiliki pengaruh yang lebih besar dalam hal pengungkapan yang dilakukakan oleh pemerintah provinsi.

Sumber:

REVIEW JURNAL KE 4 “Akuntansi Komparatif Amerika dan Asia”


Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Volume/ Halaman
Vol 13, No 1/ hal 1-12
Nama Penulis
I Made Narsa
Judul Jurnal
Prediksi Aliran Kas Berdasarkan Laba Fungsional dan Aliran Kas Kelambanan: Komparasi antara US dan Indonesia
Tanggal Jurnal
Mei 2011
Tujuan penelitian
Untuk menguji kemampuan laba fungsional dan aliran kas (CFt-n) dalam menjelaskan dan memprediksi aliran kas masa depan, dan membandingkan kemampuantersebut antara Negara US dan Indonesia.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian empirik dengan pendekatan kuantitatif
Variabel Penelitian
Variabel dependen : Aliran Kas
Variabel independen : Laba Fungsional yaitu Laba Kotor (LK), Laba Operasi (LO), Laba Bersih (LB) dan Aliran Kas Kelambanan (AKK).
Hasil Penelitian
Dari semua hasil estimasi tampak bahwa angka laba ternyata memiliki kemampuan yang baik untuk menjelaskan aliran kas. Goodness of fit ketiga model tersebut yang dilihat dariniali uji F sangat tinggi dan signifikan pada level di bawah satu persen. Namun jika dengan kriteria seleksi model diperoleh hasil bahwa untuk data Indonesia yaitu berarti hipotesis yang diajukan bahwa angka laba kotor memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan dengan angka laba operasi dan laba bersih dalam menejlaskan perilaku aliran kas untuk kasus di Indonesia didukung data empiris. Namun, variabel aliran kas kelambanan tida signifikan untuk ketiga model. Sedangkan, jika dilihat dari data US, semua variable LK, LO, LB dan AKK signifikan pada ketiga model, tetapi model yang paling baik adalah model 2, artinya laba operasi dan aliran kas kelambanan memiliki kemampuan yang paling baik dalam menjelaskan perilaku aliran kas masa depan.
Kesimpulan Penelitian
Penelitian ini menemukan bahwa laba kotor memiliki kemampuan prediksi paling kuat dalam menjelaskan dan memprediksi aliran kas masa depan dibandingkan dengan laba lainnya untuk koneksi di Indonesia, tetapi untuk di US adalah laba bersih. Kemampuan laba fungsional dan aliran kas kelambanan ditemukan berbeda antara perusahaan-perusahaan di Indonesia dan US. Oleh karena, jika investor ingin memprediksi aliran kas masa depan, maka akan lebih akurat jika menggunakan komponen laba kotor untuk di Indonesia dan kemampuan laba bersih untuk di US.
Pendapat Mengenai Jurnal
Untuk jurnal akuntansi dan keuangan ini sudah cukup bagus dan menarik dan sangat membantu untuk para investor dalam berbisnis di perusahaan Indonesia maupun perusahaan di US.

Sumber:



Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Volume/ Halaman
Vol 13, No 1/ hal 1-12
Nama Penulis
I Made Narsa
Judul Jurnal
Prediksi Aliran Kas Berdasarkan Laba Fungsional dan Aliran Kas Kelambanan: Komparasi antara US dan Indonesia
Tanggal Jurnal
Mei 2011
Tujuan penelitian
Untuk menguji kemampuan laba fungsional dan aliran kas (CFt-n) dalam menjelaskan dan memprediksi aliran kas masa depan, dan membandingkan kemampuantersebut antara Negara US dan Indonesia.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian empirik dengan pendekatan kuantitatif
Variabel Penelitian
Variabel dependen : Aliran Kas
Variabel independen : Laba Fungsional yaitu Laba Kotor (LK), Laba Operasi (LO), Laba Bersih (LB) dan Aliran Kas Kelambanan (AKK).
Hasil Penelitian
Dari semua hasil estimasi tampak bahwa angka laba ternyata memiliki kemampuan yang baik untuk menjelaskan aliran kas. Goodness of fit ketiga model tersebut yang dilihat dariniali uji F sangat tinggi dan signifikan pada level di bawah satu persen. Namun jika dengan kriteria seleksi model diperoleh hasil bahwa untuk data Indonesia yaitu berarti hipotesis yang diajukan bahwa angka laba kotor memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan dengan angka laba operasi dan laba bersih dalam menejlaskan perilaku aliran kas untuk kasus di Indonesia didukung data empiris. Namun, variabel aliran kas kelambanan tida signifikan untuk ketiga model. Sedangkan, jika dilihat dari data US, semua variable LK, LO, LB dan AKK signifikan pada ketiga model, tetapi model yang paling baik adalah model 2, artinya laba operasi dan aliran kas kelambanan memiliki kemampuan yang paling baik dalam menjelaskan perilaku aliran kas masa depan.
Kesimpulan Penelitian
Penelitian ini menemukan bahwa laba kotor memiliki kemampuan prediksi paling kuat dalam menjelaskan dan memprediksi aliran kas masa depan dibandingkan dengan laba lainnya untuk koneksi di Indonesia, tetapi untuk di US adalah laba bersih. Kemampuan laba fungsional dan aliran kas kelambanan ditemukan berbeda antara perusahaan-perusahaan di Indonesia dan US. Oleh karena, jika investor ingin memprediksi aliran kas masa depan, maka akan lebih akurat jika menggunakan komponen laba kotor untuk di Indonesia dan kemampuan laba bersih untuk di US.
Pendapat Mengenai Jurnal
Untuk jurnal akuntansi dan keuangan ini sudah cukup bagus dan menarik dan sangat membantu untuk para investor dalam berbisnis di perusahaan Indonesia maupun perusahaan di US.

Sumber:


REVIEW JURNAL KE 3 “Akuntansi Komparatif Eropa”


Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi Bisnis
Volume/ Halaman
Vol XIII No. 25
Nama Penulis
Anggreni Dian Kurniawati
Judul Jurnal
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Earnings Response Coefficient
Tanggal Jurnal
September 2014
Tujuan penelitian
Menguji secara empiris apakah persitensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual merupakan karakteristik perusahaan yang mempengaruhi ERC perusahaan Eropa dan Asia yang terdaftar di NYSE dan menganalisis apakah factor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan Eropa berbeda dengan perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE.
Metode Penelitian
Metode analisis deskriptif
Variabel Penelitian
Variabel Dependen : Earnings Response Coefficient (ERC).
Variabel Independen : Persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan dan kualitas akrual.
Hasil Penelitian
Hasil statistik deskrptif menunjukkan bahwa laba perusahaan Asia tida sesuai dengan prinsip akuntansi atau tida konservatif daripada laba perusahaan Eropa yang konservatif atau melaporkan laba sesuai dengan prinsip akuntansi, maka kualitas akrual perusahaan Eropa lebih baik daripada kualitas akrual perusahaan Asia.

Berdasarkan hasil pengujian regresi linier berganda dalam hasil statistic dapat disimpulkan bahwa persitensi laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE yang berarti :
H1 Terdukung
didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan persistensi laba (PEL) untuk perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.016 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.008 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.014. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.

H2 Tidak Terdukung
didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan leverage (LEV) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05dengan koefisien regresi sebesar 0.049 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.048 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.041. Berdasar hasil statistik tersebut maka dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYS.

H3 Tidak Terdukung
didapatkan bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan ukuran perusahaan (SIZE) untuk sampel perusahaan Asia adalah sebesar 0.014 lebih
kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.006 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.001 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar -0.013. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan ukuran perusahaan di Asia
berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia namun lain halnya dengan
perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Ukuran perusahaan di Eropa berpengaruh negatif terhadap kualitas laba.

H4 Terdukung
bahwa dengan signifikansi alpha 5% didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda
antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan kualitas akrual (AA) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.207 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.044 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.128. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia dan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.

Kesimpulan Penelitian
Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa persitensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE. Sedangkan untuk perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE, persitensi laba, leverage, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Eropa namun ukuran perusahaan berpengaruh negative terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Analisi tambahan juga menyimpulkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan Eropa di NYSE dan perbedaan tersebut disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda diantara kedua Negara tersebut.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut kami, jurnal penelitian ini sudah cukup baik dan sangat membantu mahasiswa agar mengetahui akuntansi pada perusahaan yang terdapat di Eropa. Sehingga mahasiswa dapat memperluas ilmu akuntansinya yang tida hanya di Asia tapi Eropa pun dapat di perdalam. Hanya saja, perusahaan yang diteliti sebaiknya bisa tertuju ke salah satu sektor agar dapat diketahui kualitas laba tersebut.

Sumber:



















Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi Bisnis
Volume/ Halaman
Vol XIII No. 25
Nama Penulis
Anggreni Dian Kurniawati
Judul Jurnal
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Earnings Response Coefficient
Tanggal Jurnal
September 2014
Tujuan penelitian
Menguji secara empiris apakah persitensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual merupakan karakteristik perusahaan yang mempengaruhi ERC perusahaan Eropa dan Asia yang terdaftar di NYSE dan menganalisis apakah factor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan Eropa berbeda dengan perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE.
Metode Penelitian
Metode analisis deskriptif
Variabel Penelitian
Variabel Dependen : Earnings Response Coefficient (ERC).
Variabel Independen : Persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan dan kualitas akrual.
Hasil Penelitian
Hasil statistik deskrptif menunjukkan bahwa laba perusahaan Asia tida sesuai dengan prinsip akuntansi atau tida konservatif daripada laba perusahaan Eropa yang konservatif atau melaporkan laba sesuai dengan prinsip akuntansi, maka kualitas akrual perusahaan Eropa lebih baik daripada kualitas akrual perusahaan Asia.

Berdasarkan hasil pengujian regresi linier berganda dalam hasil statistic dapat disimpulkan bahwa persitensi laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE yang berarti :
H1 Terdukung
didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan persistensi laba (PEL) untuk perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.016 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.008 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.014. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.

H2 Tidak Terdukung
didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan leverage (LEV) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05dengan koefisien regresi sebesar 0.049 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.048 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.041. Berdasar hasil statistik tersebut maka dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYS.

H3 Tidak Terdukung
didapatkan bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan ukuran perusahaan (SIZE) untuk sampel perusahaan Asia adalah sebesar 0.014 lebih
kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.006 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.001 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar -0.013. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan ukuran perusahaan di Asia
berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia namun lain halnya dengan
perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Ukuran perusahaan di Eropa berpengaruh negatif terhadap kualitas laba.

H4 Terdukung
bahwa dengan signifikansi alpha 5% didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda
antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan kualitas akrual (AA) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.207 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.044 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.128. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia dan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.

Kesimpulan Penelitian
Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa persitensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE. Sedangkan untuk perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE, persitensi laba, leverage, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Eropa namun ukuran perusahaan berpengaruh negative terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Analisi tambahan juga menyimpulkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan Eropa di NYSE dan perbedaan tersebut disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda diantara kedua Negara tersebut.
Pendapat Mengenai Jurnal
Menurut kami, jurnal penelitian ini sudah cukup baik dan sangat membantu mahasiswa agar mengetahui akuntansi pada perusahaan yang terdapat di Eropa. Sehingga mahasiswa dapat memperluas ilmu akuntansinya yang tida hanya di Asia tapi Eropa pun dapat di perdalam. Hanya saja, perusahaan yang diteliti sebaiknya bisa tertuju ke salah satu sektor agar dapat diketahui kualitas laba tersebut.

Sumber:


















 
Efenni Prima Canceria Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template